Sumber foto: https://humas.polri.go.id/2023/10/20/menghadapi-pemilu-2024-menyuarakan-suara-dalam-nuansa-toleransi/https://humas.polri.go.id/2023/10/20/menghadapi-pemilu-2024-menyuarakan-suara-dalam-nuansa-toleransi/

Pada masa tenang ini masyarakat kita akan dihadapi pada sebuah masa tenang yang bingung sebab pilihan kita adalah penentu Indonesia kedepan. Dan tentunya bagi masyarakat yang berpikir sebagai manusia penentu, akan dilanda kebingungan dan kekhawatiran. Bagaimana tidak bingung, bagi suatu masyarakat yang sedang mengalami kegamangan akan sebuah sistem nilai terkait problematika bangsa yang baru-baru ini dihadapi tak heran jika ini menyababkan kegalauan panjang. Tidak mudah bagi kita membedakan mana yang baik dan buruk, antara komisi dan korupsi, antara terdakwa dan pendakwah. Semua itu tak bisa diurai bagai gula yang dilarutkan dalam kopi. Hari ini, iman dan ilmu yang seharusnya menjadi pencerahan dan pencerdasan telah kehilangan kekuatan untuk menentukan sikap. Sebagian politisi terserang fenomena rabun ayam yang hanya mau melihat kepentingan sesaat yang menyebabkan penderitaan jangka panjang. Mereka tidak peduli dengan kondisi bangsa dan mayarakat yang porak poranda, krisis berkepanjangan, penegakan hukum yang hanya sandiwara serta demokrasi yang tak tau arah.

Kita sebagai masyarakat yang memiliki hak suara untuk memilih, jadilah pemilih yang sehat akalnya dan hati nuraninya masih difungsikan sebagaimana mestinya sehingga tidak memperparah keadaan bangsa, jangan jadi pemilih yang gelap mata yang mata nuraninya sudah tidak mampu melihat bahwa yang putih adalah putih dan hitam adalah hitam. Hal ini merupakan semacam penyakit yang mengancam akal sehat, logika mereka sudah bangkrut dan lumpuh bahkan merangkak saja tak mampu. Karena demi membela pemimpin yang diidolakan mereka saling mencaci maki bahkan siap terjun untuk perang saudara. Apakah seringan itukah sebuah pertumbahan darah. Hal ini justru memperparah keadaan politik kita yang sudah sekarat dan mejadi notifikasi bahwa sebagian kita dan para elite politik memang sedang mengalami penyakit kronis yakni ketidakdewasaan dalam berpolitik.

Tapi situasi akan kurang mengenaskan jika pilihan yang kita bela adalah sosok yang visioner, cakap mengatasi problematika yang ada, pumya peta masa depan serta adil. Namun, lain lagi jika ceritanya berbeda, dan hanya bermuara pada resiko kobobrokan masa depan bangsa yang akut.

Dan yang terpenting, jangan tukar persatuan dengan perpecahan, apapun yang terjadi selesaikan semestinya orang dewasa!, bangsa kita bukan bocah lagi, lebih dari 70 kita merdeka, sebuah angka yang sudah tidak mudah lagi!.

Lalu pertanyaannya siapakah yang harus bertanggung jawab?!, Elite politik? Intelektual?, Pendeta?, Ulama? Birokrat? Atau siapa?. Dari pertanyaan tersebut, agak fair jika yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah sebagai pemegang kunci utama. Dan tetap disamping itu, hal ini juga merupakan tanggung jawab dan akan menjadi dosa kolektif kita bersama sebagai anak bangsa Indonesia jika kita tidak sadar hari ini.

Maka dari itu, ditengah kegamangan ini, mari menjadi pemilih yang berakal sehat agar tak salah memilih, karena pilihan yang salah hanya akan memperparah keadaan yang sudah sekarat ini dan demokrasi yang sehat hanya akan mungkin dibangun oleh masyarakat yang menggunakan akal sehatnya dan tentunya dengan hati nurani yang tidak disfungsi.

Apakah kita tidak merindukan sebuah pesta demokrasi yang anggun dan berwibawa?.

Dan semoga pemimpin bangsa Indonesia kedepan adalah sosok pemimpin bangsa yang cerdas-beriman dan berwawasan kebangsaan, semoga harapan dan kerinduan ini akan segera menemukan pelabuhannya di pesta demokrasi ini.

Terakhir, semoga tulisan ini tidak hanya menjadi upacara teks, mari jadi pemilih yang waras!.

Salam Waras…!

oleh; Maisaroh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *