Tulisan ini sebenarnya adalah pengembangan dari tulisan bulan Agustus tahun 2022 yang lalu, dengan judul “Kuliah bukan Tentang IPK Belaka“, dimana tulisan itu lahir dari sebuah moment libur perkuliahan usai Ujian Akhir Semester yang telah kami lalui. Sama halnya dengan moment pada saat ini, ada yang sedang bahagia karena UAS telah pergi adapula yang bahagianya harus ditunda karena revisi masih merisaukan hati. Sebagiannya lagi sedang cemas menanti nilai ujian untuk membanding IPK tahun lalu dengan tahun ini. Sebenarnya hal itu tak ada salahnya, namun lebih eloknya kita harus pahami juga bahwa kuliah bukan perihal IPK belaka. Pandangan bahwa kuliah yang mementingkan IPK saja adalah bagian tipe mahasiswa yang mungkin menganggap bahwa perkuliahan adalah sebuah proses dalam sekat-sekat ruang kelas. Tentu ini pandangan yang sempit, karena kuliah tidak hanya sebatas itu.

IPK memang penting, tapi refleksi diri juga merupakan hal harus kita lakukan, untuk mengetahui perubahan atau perbaikan apa yang kita dapatkan dan lakukan dalam satu semester ini? Adakah? Atau bahkan tidak sama sekali?. Sebagai mahasiswa yang selalu digadang-gadangkan sebagai agent of change tapi merubah diri sendiri kok susah sekali!. Mari kita bersama-sama melalui tulisan ini menghayati diri sendiri selama satu semester ini; sudah seberapa banyak buku yang kita baca kemudian berdiskusi? berapa banyak pengalaman-pengalaman baru yang telah kita lewati? Sudah mengantongi pengetahuan dan ilmu apa saja?. Jika pertanyaan tersebut kita masih berpikir dan kaku untuk menjawab maka sudah dapat diperkirakan bahwa selama ini kita menganggap perkuliahan adalah hal sederhana dan biasa-biasa saja. Padahal kuliah adalah karunia terindah bagi para pemuda yang mendapatkan kesempatan tersebut disaat para pemuda lainnya tidak mendapatkannya.

Mari dari itu, mari kita sekali lagi berpikir, libatkan hati nurani kita bahwa kuliah itu bukan hanya tentang IPK belaka, namun kuliah adalah tentang orang-orang yang kita temui, pengalaman-pengalaman yang pernah kita jalani, sklil yang kita asah, memori yang pernah kita buat serta pemahaman yang pernah kita dapatkan. Oleh karena itu, sebagaimana yang pernah diutarakan oleh motivator kaum pemuda yakni Najwa Shihab pernah menyampaikan bahwa kuliah itu seperti membeli situasi dimana seharusnya kita isi dengan membaca buku, berkarya, berdiskusi, bergerak dan mencari relasi. Jika tidak, maka perkuliahan hanya akan menjadi dekorasi bukan penunjang tradisi untuk mengisi dengan aksi.

Mari kita sejanak melakukan refleksi agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi di semester selanjutnya nanti, kuliah akan sia-sia jika yang kita kejar hanya perihal IPK belaka!. (Mae)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *