Permasalahan besar yang dihadapi manusia modern saat ini berkenaan dengan kekuatan rasio yang yang didorong dengan kepentingan-kepentingan yang tidak memanusiakan manusia yakni rasionalisme ekstrim, kapitalisme, kecenderungan materialistik dan profanitas, serta penegasiaan terhadap dimensi spritual dalam ajaran agama dan berketuhanan. Sehingga pada akhirnya, manusia terjebak dalam ruang baru yang begitu menyesakkan dirinya dan manusia lainnya yakni nihilisme (kekosongan makna) dan kemudian menjadikan rasionalitas manusia sebagai Tuhan baru yang berdampak pada krisis spritual, kemudian dari krisis spritual ini memunculkan krisis sosial, krisis moral dan krisis lainnya yang berdampak pada penindasan terhadap kemanusiaan manusia. Permasalahan-permasalahan besar tersebut sangat sesuai dengan keadaan umat manusia di Indonesia kita tercinta yang katanya kaya akan kekayaan alamnya yang begitu melimpah namun, penderitaan rakyat karena masalah kemiskinan justru juga melimpah bukankah ini lelucon yang begitu menyakitkan. Mari buka mata, akal fikiran dan hati nurani kita terhadap begitu banyaknya permasalahan dan penderitaan manusia karena sekelompok manusia yang tidak mau memanusiakan manusia lainnya. Kaum kapitalis, koruptor dan kaum materialistis memperkosa alam dan melakukan hegemoni dengan begitu bejatnya hanya untuk kepentingan dirinya tanpa mau memikirkan hal buruk yang akan terjadi untuk dirinya dan umat manusia lainnya.

Dalam menjawab berbagai permasalahan kemanusiaan maka, perlu adanya solusi menurut perspektif Islam yang didasarkan pada al-Quran, sebagaimana yang dikatakan dalam bukunya Ahmad Syafii Maarif bahwa al-Quran merupakan petunjuk moral yang diturunkan Tuhan kepada umat manusia. Dalam hal itu, penulis mengambil pemikiran Humanisme Islam dalam pandangan Gus Dur dimana, beliau merupakan Bapak kemanusiaan sekaligus sang guru bangsa bagi Indonesia. Oleh karena itu, tak perlu diragukan lagi tentang pemikiran-pemikirannya tentang Humanisme Islam dalam mengatasi permasalahan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia. Mengingat juga bulan Desember ini tepatnya pada tanggal 30 Desember 2009, Gus Dur sang pendidik bangsa Indonesia telah meninggalkan kita semua.

Wajah modernisme yang anggun nan kokoh dengan filsafat rasionalismenya membawa aspek negatif yang begitu besar dan begitu nyata pahitnya dalam kehidupan manusia sekarang. Salah satu paham yang dianutnya yakni Humanisme. Humanisme dipahami sebagai pemberontakan manusia atas Tuhan karena otoritas agama telah mengkebiri kebebasan manusia sehingga kemanusiaan tidak berkembang sebagaimana mestinya. Sedangkan kemuliaan manusia terletak pada kebebasannya dalam menentukan segala hal dalam hidupnya yang kemudian didorong dan didukung dengan kemampuan dan kecerdasan akal budi yang dimilikinya. Oleh karena itu dengan kecerdasan yang dimikinya manusia harus mampu berkembang dan sejahtera dalam berbagai aspek kehidupan tanpa harus dikungkung oleh doktrin agama. Sehingga lahirlah paham humanisme sebagai reaksi atas peradaban dehumanisasi yang merugikan manusia sebagai makhluk mulia dan agung. Yang kemudian dikenal dengan Humanisme ateis. Karena paham ini telah melepaskan kehidupan manusia dari eksis Tuhan karena agama telah membatasi kebebasan manusia untuk meraih kesejahteraan dalam hidupnya. Sehingga kekosongan Tuhan dalam manusia mengakibatkannya pada sesuatu yang tidak berperikemanusiaan.

Maka dari itu diperlukan sebuah Humanisme Islam yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan al-Quran. sebagaimana Humanisme yang di gagas oleh Gus Dur. Adapun beberapa keyakinan humanistik Gus Dur dapat kita pahami dari beberapa pemikirannya, yakni :

  • Fiqh selaras dengan kemanusiaan.Fiqh merupakan ratu pengetahuan kaum muslim yang mewadahi hukum-hukum syariat dimana didalamnya terkandung serta menyediakan perlindungan atas hak-ak manusia. Maka, hukum islam tidak pernah berbenturan dengan hukum islam. Namun, justru syariat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  • Derajat kemuliaan manusia di sisi Tuhan yakni dengan melaksanakan tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia dengan meneladani peran pembawa kesejahteraan umat manusia yakni Rasulullah. Dengan demikian agama hadir bukan untuk membatasi kebebasan manusia dalam mengembangkan potensinya. Namun, justru agama mendukung sepenuhnya bahwa manusia harus mengupayakan kehidupan yang sejahtera untuk umat manusia sebagaimana Rosulullah yang memiliki peran kenabian yakni sebagai rahmatal lilalamin.
  • Manusia sebagai khalifatullah, yakni sebagai wakil Allah di bumi. Dan semestinya manusia yang berperan sebagai khalifatullah harus mengupayakan kesejahteraan manusia di muka bumi. Dan bukan malah sebaliknya, manusia tidak seharusnya menghambat kesejahteraan umat manusia. Maka boleh dikatakan bahwa manusia yang melakukan praktik korupsi dan kapitalisme seperti yang terjadi di Indonesia, meraka adalah manusia-manusia yang gagal menjalankan bahkan menghianati perannya sebagai khalifatullah (pembawa kesejahteraan umat manuisa).

Dari berbagai pemikiran-pemikiran tentang kemanusiaan yang Gus Dur tawarkan, hal itu bisa dijadikan sebagai mentalitas penerus bangsa Indonesia guna menjawab permasalahan dan penderitaan bangsa yang memilukan akhir-akhir ini, akibat dampak negatif wajah modernisme. Agar umat manusia Indonesia terutama umat muslim sebagai kaum mayoritas yang memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan cita-cita kemanusiaan yakni kesejahteraan hidup baik secara lahir maupun batin. Artinya, dalam diri manusia harus ada keseimbangan antara dimensi material dan spritualnya. Sehingga manusia bebas dari krisis spritual, krisis sosial dan krisis moral yang sangat merugikan kemanusiaan.

Semoga tulisan ini bisa mengenang, menghidupkan kembali pemikiran beliau sehingga dapat bermanfaat dalam memulihkan akal sehat dan membuka hati nurani kita semua untuk meneruskan para pejuang kemanusiaan. Alfatihah untuk sang guru guru dan pendidik bangsa, KH. Abdurrahman Wahid. Kiranya Tuhan menempatkan beliau disisi terbaik-Nya.

Penulis; Mae

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *