Disadari atau tidak, pendidik (Guru/Dosen) menjadi salah satu wahana dalam mendorong perubahan untuk melakukan pencapaian kompetensi peserta didik. Selain itu, Ia juga bisa disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa karena memang secara historis telah memberikan sumbangsih pemikiran yang cukup representatif terhadap kemajuan dan kemerdekaan sebuah bangsa.

Secara Konstitusi, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. sedangkan, Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.(UU No 14 Tahun 2005)

Dari kutipan diatas, Maka garis besar dari seorang pendidik khususnya guru & dosen yaitu, memiliki tugas mulia serta kontribusi konkret dalam kemajuan sebuah peradaban bangsa(mentransfer knowledge dan pastinya mempunyai intelektual tinggi). Eits, tetapi bukan itu saja, kalau merujuk pada konsepsi yang pernah disampaikan Menteri Pendidikan Republik Indonesia pertama kali (Ki Hajar Dewantara). Ia mengklasifikasikan antara pengajaran dan pendidikan.

Pengajaran adalah proses memberikan ilmu pengetahuan dan memberikan keterampilan yang mempengaruhi kecerdasan pada anak-anak, yang bermanfaat untuk hidup lahir batin anak-anak. Sedangkan, Pendidikan yaitu upaya kebudayaan yang berazaskan keadaban untuk memberikan dan memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak yang selaras dengan dunianya.(Tauchid dkk.,1962)

Jelas ya, penulis kira kawan-kawan sudah sedikit paham dan bisalah melihat tupoksi guru dan dosen, membedakan praktek pengajaran itu seperti apa dan proses pendidikan itu bagaimana.? Kemudian, mari kita refleksikan dan amati bersama sama secara objektif.! Di sebuah lembaga pendidikan tempat kita mengakses ilmu dan menempa diri (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al Ibrohimy). Pendidik (Dosen) yang acapkali bersentuhan dengan kita disetiap jadwal mata kuliah yang telah ditentukan oleh civitas akademika. kira-kira praktek apa yang sering dijumpai.?

Kendati demikian, Ki Hajar Dewantara bukan hanya mampu mengkategorikan terkait praktek pendidikan saja. Ia juga dalam catatan literatur telah memberikan sumbangsih pemikiran fenomenal pada bangsa Indonesia mengenai model pendidikan yang hingga hari ini masih relevan di implementasikan, yakni Pendidikan Sistem Among.

Gagasan tersebut bukan serta merta diterapkan olehnya karena semata-mata untuk kepentingan dirinya dalam membangun reputasinya. Namun, keadaan objektif pada saat itu yang mengantarkan Ki Hajar Dewantara berpikir kritis sehingga mampu merumuskan pendidikan sistem among. Model pendidikan ini lahir atas dasar menjawab gejolak Pendidikan di tanah air yang saat itu terjangkit sistem pendidikan barat, dengan ciri khas yakni, “regering, tucht dan orde” (perintah, hukuman dan ketertiban).

Melihat hal itu, Ia mengajukan konsep pendidikan dengan istilah “orde en vrede” (tertib, damai dan tata-tentrem) tentunya ini sebagai bentuk counter terhadap pendidikan sistem barat yang dinilai cenderung lekat dengan tindakan eksploratif dan totaliter. Ia pun mengatakan bahwa negara Indonesia lebih efektif menerapkan pendidikan yang menjunjung tinggi suka cita dan membuka kekuatan pikiran dan watak anak, itu sebabnya ia mengedepankan pendidikan dengan sistem among. (Dewantara, 1957)

Dalam pandangannya, Pendidikan Sistem Among yang diajukan oleh Ki Hajar Dewantara senantiasa mengedepankan asas kemanusiaan sehingga peserta didik harus diberikan kebebasan dan kemerdekaan yang terbatas oleh tuntutan kodrat alam dan menuju ke arah kebudayaan. Sistem ini menjunjung tinggi pedagogik pemeliharaan, dengan perhatian penuh, yang menjadi syarat berkembangnya peserta didik secara lahir dan batin. (Le Febre, 1952)

Untuk itu, kiranya tidak berlebihan jika penulis dengan rasa hormat berharap kepada seluruh jajaran pendidik(Dosen) yang berada di lingkungan lembaga pendidikan tinggi ini (STITAL) untuk meningkatkan profesionalitas dalam mengajar dan mendidik. Pun juga sebisa mungkin dapat menjamin dalam memberikan kemerdekaan dan kebebasan dengan syarat terus “menjaga, merawat serta mengarahkan” semua perbedaan yang ada di tubuh mahasiswa. Sehingga dengan ini, pendidik (Dosen) mampu melahirkan generasi muda (Mahasiswa) yang dapat mendisiplinkan diri dalam melatih cara berpikir dan dapat menumbuhkan antusiasme belajar secara mandiri tanpa mengekang kreativitas dan membatasi Freedom of Thought mahasiswa STIT Al Ibrohimy Bangkalan.

Penulis : Badruzz Darmawan
Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 7
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al Ibrohimy Bangkalan

By Rossim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *