Secara terus terang, sebagai pemuda biasa yang berangkat dari latar belakang anak desa/anak petani, saya sangat bangga dan bersyukur bisa diberi anugerah besar menjadi bagian dari generasi yang bisa melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Tidak terasa, sekarang sudah semester lima, artinya sudah 2 tahun lebih menyandang gelar mahasiswa, gelar yang begitu memikul harapan serta tantangan dan sebaliknya suatu kesedihan. Sebagai mahasiswa tentunya harus pekka terhadap keadaan dan wajib hukumnya untuk berusaha merubahnya, sebagaimana kata salah satu filsuf yunani, “Bahwa tidak ada yang abadi kecuali perubahan”. Dan tentunya perubahan yang dikhayalkan tersebut harus bermuara ke arah yang lebih ideal.

Coretan ini berangkat dari refleksi pribadi yang beberapa bulan lalu hingga hari ini penulis mengamati secara mendalam terkait keadaan sekitar(kampus STITAL) yang agak menjengkelkan dan menggelikan. Berawal dari diskusi dengan kawan-kawan mahasiswa STITAL disalah satu warung kopi, memantik saya untuk memberanikan diri menulis. Karna dari pada kegundahan ini hanya mengawang difikiran yang efeknya tidak baik terhadap mental, mungkin alangkah baiknya unek-unek dikepala saya tuangkan berbentuk tulisan. Tohh saya juga tidak menutup kemungkinan bahwa keadaan serupa juga dirasakan oleh mahasiswa lainnya. Jadi tulisan ini tidak ada maksud menjatuhkan salah satu pihak, tapi ini murni untuk mengekspresikan kegundahan yang mungkin dialami oleh mahasiswa sebaya yang bisa jadi tidak berani dalam menyuarakan suatu keresahan.

Ibarat lantunan lagu didi kempot yang akhir-akhir ini digandrungi oleh sekelompok anak muda karna telah mewakili dan mampu menggambarkan perasaannya yang sedang galau dan sendu. Dan tulisan ini mungkin sebagai bentuk ekspresi yang mewakili dari kekecewaan terhadap sebuah tatanan yang ada.

Sesuai judul diatas, bahwa kampus tercinta kita sudah 2 tahun belakangan muncul sosok Duta. Dua kali pergelaran diadakan dalam pemilihan Icon Kampus tersebut. Sebagai Icon Kampus, tentunya sangat luar biasa sandang yang diberikan. Dalam artian, mereka tersebut adalah representasi dari seluruh mahasiswa STIT AL-Ibrohimy, tentunya dari segi kualitas, intelektual,kepribadian,kekreatifitasan serta ke prestasian. Dan itu memang seharusnya dan ke idealannya menjadi potret representatif seluruh elemen mahasiswa se Kampus.

Dari dekspripsi diatas, tentunya untuk menjadi figur yang mengatasnamakan seluruh masyarakat kampus adalah sesuatu yang membanggakan tersendiri namun tentunya dibalik kebanggaan itu terdapat juga perasaan yang memberatkan, butuh kepercayaan besar yang harus dipupuk, karna memikul peran sentral yang cita-cita besarnya sebagai partner kampus dalam upaya akselerasi pembangunan SDM guna kemajuan kampus bukanlah remeh dan jangan dianggap remeh.

Adanya sosok Duta di Perguruan Tinggi memang secara sekilas suatu bentuk kemajuan tersendiri bagi kampus, apalagi menculnya Duta tersebut di Perguruan Tinggi Swasta. Yang artinya, secara general kampus yang bertagline “Kampus Masa Depan” tersebut telah mampu bersaing dengan kampus negeri lainnya. Namun, bagi saya pribadi tidaklah baik mental yang hanya mengejar persaingan, bahkan menjadi suatu dosa besar ketika kita hanya fokus dalam ranah persaingan saja. Selaras dengan apa yang dikatakan founding father kita,Soekarno pernah berkata, bahwa “Setiap bangsa punya cara berjuangnya sendiri”. Atau ketika saya tarik ke miniatur negara, setiap kampus seharusnya punya cara berjuangnya atau karakteristiknya sendiri yang perjuangannya didasarkan pada kesanggupannya. Karna obsesi yang berorientasi pada daya saing akan melahirkan sindrom yang berbahaya, sebagaimana Paul Krugman menyatakan dalam artikelnya, bahwa “Daya saing sebagai gagasan yang berbahaya”.

Sangat disayangkan kawan-kawan sekalian, keberadaan Duta di kampus yang sampai hari ini menginjak usia dua tahun (dua priode) tidak mampu memberi suatu perubahan terhadap kampus, atau dalam kaidah arab disebutkan “Wujuduhu ka Adamihi” “keberadaannya sebagaimana tidak adanya”. Padahal dilihat dari estimasi dana sangatlah besar, tidak tanggung-tanggung, biaya yang dihabiskan dalam agenda besar,pemilihan Duta setiap pergelarannya menghabiskan dana kurang lebih sekitar 10-15 juta. Dana yang sangat fantastis bagi kampus tercinta kita yang saya anggap masih masuk kualifikasi kampus kecil yang sedang berkembang, bahkan dana besar tersebut ternyata melebihi anggaran selama satu semester bagi BEM KM STITAL dan lebih besar dari anggaran lima kepengurusan atau lima tahun kepemimpinan bagi UKM yang ada di STITAL.

Seharusnya anggaran yang menghabiskan dana begitu besar dalam satu perhelatan, yakni pemilihan Duta di Kampus, yang kemudian menelurkan sosok Duta ke permukaan juga seimbang dan selaras dengan peran dan dampak yang besar pula terhadap kemajuan kampus. Baik dari segi efek nilai tawarnya sosok Duta terhadap masyarakat, lebih-lebih terhadap para siswa MA sederajat, yang kemudian hal ini berimbas terhadap membludaknya kuantitas mahasiswa baru dalam setiap tahunnya. Ataupun dari segi proses tatanan diruang lingkup kampus tersendiri yang seharusnya mampu menjadi promotor yang mampu membuahkan citra operasional dari perguruan tinggi yang ideal yang hal ini ditandai dengan karakterisitik kebudayaan mahasiswa di kampus yang prestatif.

Tapi pada kenyatannya, dampak dari adanya Duta di kampus STITAL tidaklah ada efek spesifik yang siginifikan. Terbukti dari selama dua tahun belakangan, kuantitas dari mahasiswa baru semakin menyusut. Padahal adanya Duta adalah sebagai media promosi kampus. Dan juga bisa dilihat dari peran Duta selama ini. Dari pasca pemilihan, Duta tidak lain hanya sebagai Greeter (penyambut tamu) ketika ada event. Dalam artian, tidak ada program-program yang kemudian inovatif yang dampaknya dirasakan terhadap mahasiswa, lebih-lebih peran Duta berbakat yang tidak ada, atau dalam konteks ini tidak dimanfaatkan oleh kampus (Civitas akademika).

Bagaimana bisa,? kemunculan sosok “Duta Berbakat” yang prosesnya menghabiskan dana besar tapi dalam perhelatan besar seperti agenda wisuda yang dihadiri oleh tamu besar, sama sekali tidak ada keterwakilan dari Duta Berbakat dalam mengekspresikan kebolehannya. Seharusnya pihak civitas akademika memanfaatkan fungsinya, semisal sebagai MC (Master of Ceremony) dan lain sebagainya. Dalam kasuistik ini, pihak civitaslah yang menafikan dan mendzolimi posisi Duta Berbakat.

Dari keadaan tersebut, penulis merasa perlunya sebuah restorasi secara gradual dan komprehensif dari adanya Duta di kampus. Agar tidak ada inefisiensi terhadap adanya Duta dan kedepan bisa lebih dimanfaatkan oleh Kampus. Dan nantinya presensi Duta diruang lingkup kampus bisa lebih jelas secara de facto maupun de jure. Menurut penulis, pembenahan ini bisa dimulai dari proses ajang pemilihan Duta kedepan untuk lebih selektif kempetitif, dan mengedepakan nilai nilai implementatif. Agar tidak ada lagi sosok Duta yang tidak dipercayai potensinya oleh pihak kampus.

Tulisan ini merupakan bentuk kecintaan penulis terhadap kampus dan bentuk tanggung jawab moral sebagai mahasiswa yang dituntut untuk berpikir kritis, serta mampu menjawab keadaan sekitar yang dinilai kontradikitif. ini bentuk implementasi penulis ketika 2 tahun lalu mengikuti PKKMB dan dibekali oleh pemateri didepan bahwa mahasiswa memikul peran agent of social change dan agent of social control.

Penulis: Rossim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *