Sebuah Cerpen

Oleh. M. Hadiri Husni

Jam sepuluh malam, semua santri pondok Pesantren Al-Mubtadiin sudah sunyi. Para santri beristirahat setelah seharian beraktivitas. Terkecuali bagi tiga orang santri yang sedang duduk di pojokan kamar 04, yaitu Syamhadi (Hadi) seorang santri kelas tiga Tsanawiyah, Syahid (Syah) kelas enam Ibtidaiyah dan Zainal (Zain) kelas 4 Ibtidaiyah. Walau berbeda kelas, mereka tinggal dalam satu kamar.

Malam itu, mereka bertiga berencana keluar malam hari menyelinap lewat pintu belakang pesantren sesuai rencana. Tujuan mereka yakni pergi ke warung internet atau warnet di desa sebelah. Menghirup  udara bebas, menyelesaikan rindu pada dunia maya. Walaupun undang-undang Pesantren Al-Mubtadiin mengharamkan santri mereka membawa atau memakai gadget ke asrama. jika membangkang, bisa fatal bahkan di drop out.

Pondok pesantren Al-Mubtadiin tidak seperti pondok pesantren besar yang memiliki satu pintu gerbang sebagai akses satu-satunya. Pesantren kuno ini bahkan tidak punya gerbang utama. Jadi, kalau ada santri yang ingin kabur atau keluar malam, sangatlah mudah. Termasuk ketiga santri ini.

Dengan santai, tetapi hati-hati mereka berjalan di depan asrama hingga menuju jalan keluar. Hadi, sang ketua komplotan sudah meriset siklus jam istirahat keamanan atau ustaz sebelumnya, rencana sudah matang, saatnya eksekusi.

“Kalau ketahuan gimana ni Di? Aku takut!” Zain bertanya dengan nada memelas takut. 

“Tenangkan hatimu kawan. Sudah seminggu aku meneliti dan memperhatikan siklus kehidupan pondok. Sekitar jam sepuluh malam kehidupan pondok, mati total. Mirip mati lampu, jleb. Semua ustaz, bagian Keamanan, pengurus hingga abang bakso belakang masjid sudah pulas boboknya.  Tak perlu risau kawan.” dengan mata berbinar bangga, Hadi yakinkan teman-temannya. Syah dan Zainal mengiakan. Ikut bersemangat. 

Kesiur angin hilir sungai menemani perjalanan mereka menuju desa Sungai Ambawang, tempat warnet itu berada. Berjalan kaki, menjejaki ladang, menelusuri jalan, menusuk dingin malam. Tiga puluhan menit berlalu, sedikit lagi mereka tiba ke warnet itu.

Mereka hanya perlu menyeberangi jembatan besi beraspal sepanjang 10 meter dengan lebar 6 meter. Dengan empat tiang besi penyangga yang tinggi menjulang dari dasar sungai hingga ke atas kira-kira 10 Meter. 

Aktivitas masyarakat Sungai Ambawang juga sudah redup.Lampu-lampu rumah sudah mati. Jalan raya sudah sepi lalu lalang. Toko-toko sudah tutup.

“Hei, kawan. Kalian tahu tidak? Gus Hasyim yang super galak itu, aku dengar-dengar sering berseliweran di jalan ini, jam-jam segini. Berpatroli.“ sambil berbicara ragu-ragu, Zainal memecah keheningan. Mendengar kabar tersebut sontak membuat Hadi dan Syah kaget bukan kepalang.

Gus Hasyim adalah adik bungsu Kyai Abdul, pengasuh Pondok Pesantren Al-Mubtadiin, pesantren mereka.Gus satu ini, terkenal galak pada santri yang melanggar aturan. Bahkan, tidak segan-segan menampar santrinya yang keterlaluan. Fakta ini cukup untuk menghentikan langkah mereka sementara. Padahal warnet yang diimpi-impikan hanya tinggal menyeberang jembatan. Sebentar lagi mereka sampai. 

Akhirnya Hadi menemukan ide bagus. Eureka! Lampu kuning bersinar cemerlang di kepalanya.

“Aha! Aku punya ide! Begini kawan, biar meminimalisir ketahuan, kita lari menyeberang jembatan gantian. Pertama Aku, terus Syah, terakhir Zainal. Nanti kita tunggu di seberang. Gimana? “ Hadi mendeskripsikan idenya. Meyakinkan kedua temannya. Syah dan Zain merasa tidak punya pilihan lagi. Keduanya temannya mengangguk.Setuju.

Dalam hitungan sekian detik, Biang Kerok Hadi sudah lari ke seberang, disusul Syah, lalu Zainal paling belakang. Akhirnya, mereka bertiga tiba di seberang.  Warnet hanya sepelemparan batu di depan mata. 

Karena kecapaian, mereka memutuskan istirahat, duduk di kursi panjang depan sebuah toko yang lampunya sudah mati. Gelap.

Tidak lama dari itu, tiba-tiba mereka didatangi seorang lelaki tiga puluh tahun, kurus kerempeng, tinggi, berkaos oblong hitam, dengan celana hitam sobek-sobek mengendarai motor Supra-X tahun 2008-an. Sosok asing ini tampak menakutkan. Dia hanya memperhatikan wajah mereka satu persatu tanpa sepatah kata. Sekian menit ia seakan men-scanning mereka. Sebelum akhirnya sosok tersebut memacu motor bututnya berbalik arah. Lalu hilang ditelan gelap malam. 

“Siapa tadi? Kalian kenal?” Zain si penakut bertanya pelan.

“Enggak tahu, mukanya aja aku baru kenal” Syah menjawab santai.

“Ia sudah lah. Lagian kita juga enggak kenal. Lupakan. Fokus warnet dulu kawan. Tanggung kawan. Dari pondok ke sini itu butuh perjuangan melelahkan. Setelah sedikit lagi kita sampai tujuan, kalian malah berhenti? Cemen sekali. “ Hadi si Biang Kerok ini mudah saja mempengaruhi mereka.

Ketiga kancil ini melanjutkan ekspedisi mereka. Tanggung. 

Sesampai di warung internet, seperti biasa mereka memesan tempat duduk masing-masing. Zain di tempat duduk no.12, Hadi memilih duduk di nomor 04, sedangkan Syah memilih duduk di pojokan nomor 06.

Warung internet itu hanyalah sebuah bangunan berbentuk  4×4 dengan bilik-bilik yang disekat dengan tripleks. Setiap bilik terdapat seperangkat PC dan nomor bilik berbeda-beda. Dari nomor 01 sampai 12.

Berselancar di dunia maya, chatting-an dengan kawan di rumah atau sekedar baca artikel di google. Nge-wanet menjadi obat kejenuhan mereka dengan segala kegiatan pesantren yang terkesan padat monoton. Setidaknya itu yang sedang mereka alami.

Tiga jam berlalu, mereka bertiga memutuskan balik ke pesantren. Seusai membayar bill, mereka langkahkan kaki. Pulang lagi ke Penjara Suci. 

Mereka pulang melalui rute yang sama. Melewati jembatan besi, jalan perkampungan, lalu tiba-tiba, datang segerombolan bapak-bapak dan orang dewasa mengendarai motor ke hadapan mereka. Kira-kira dua puluhan lebih orang. 

“Hei, berhenti kalian! Berhentiii!!“ Teriak seorang bapak berbadan kekar tinggi besar sambil turun dari motornya menghentikan mereka. Zain ketakutan, Hadi dan Syah kaget bukan kepalang. Detak jantung mereka tak beraturan. Ini ada apa? Begitu isi benak mereka. Bagaimana tidak? Beberapa menit lalu, mereka tertawa cekikikan di perjalanan, mendadak mereka dihentikan oleh segerombolan orang-orang garang yang tidak dikenal. Kaget. Shock.

“Kalian yang mencuri di toko di samping jembatan itu? Ayo, ikut kami sekarang”. Seru bapak tadi sembari menyuruh anggota yang lain membonceng mereka bertiga. Mereka bertiga ikut. Pasrah tanpa perlawanan. Mereka tidak tahu akan dibawa kemana. Perasaan tidak tahu apa-apa, takut dan kaget mencair jadi satu.

Rombongan berhenti di sebuah tempat yang sangat mereka kenal akan keberingasan, intimidasi dan intoleran kepada pengganggu keamanan masyarakat. Kantor polisi. Lengkap dengan tulisan kapital Polisi sektor Sungai Ambawang terpampang di pagar depan. Lengkap dengan logo polisi di atasnya. Mereka digelandang ke dalam kantor seperti maling ternak warga. 

Semua rombongan masuk, menyerahkan ketiga remaja tersangka kepada pihak berwajib. Lalu berbalik arah, meninggalkan mereka dengan wajah tersenyum bangga seakan berhasil menyelesaikan misi menangkap buronan narkoba kelas kakap.

Mereka bertiga didudukkan di kursi sepanjang dua depa terbuat dari kayu jati. Muncul seorang petugas berbaju coklat bercelana hitam khas polisi. IPTU Widyatmoko. KAPOLSEK SUNGAI AMBAWANG.  Begitu yang tertulis di seragam ketat di bagian dada kiri atas nya. Mengambil handphone dari saku kanannya lalu memotret mereka bertiga. Zep! Zep! Zep! Cahaya flash kamera memenuhi ruangan tiga kali. 

“Jangan Nunduk! Gak perlu ditutup muka maling kalian! Iptu tadi membentak Syah yang menunduk dan Hadi yang sedang menutup wajah dengan tangan kirinya. 

Pemilik pangkat tertinggi di Kepolisian Sungai Ambawang ini, menaruh kembali hp ke saku nya, lalu duduk di kursi plastik biru berseberangan dengan mereka. Bapak berusia sekitar lima puluhan tahun ini bertanya sambil tersenyum tipis.

“kalian yang maling di toko tadi itu ya? Iptu tadi bertanya dengan santai.

Mendengar tuduhan tersebut mereka kompak menjawab “enggak pak, kami bukan maling”

“SAYA TANYA SEKALI LAGI, NGAKU KALIAN! AWAS NGGAK NGAKU! SAYA PUKUL MUKA SOK LUGU KALIAN!!” Iptu bertanya dengan nada meninggi.

“Nggak paaaakk.. “suara Syah memelas pembelaan.

“Alaahh… jangan Bohong kamu! Tadi sudah banyak buktinya” Iptu Widyatmoko mengancam.

“Billahi pak, demi Allah kami tidak mencurii… “suram sekali wajah Hadi, sambil sesenggukan. Tak percaya atas peristiwa fitnah ini.

“Jangan bawa nama-nama Tuhaaaan!! Sudah maling berani bawa nama -nama Tuhan! Kalian ini santri kan? Masak santri nyolong? Santri apa kalian?”

Dikatakan seperti itu, mata Syah dan Hadi berkaca-kaca. Zainal? Air matanya sudah mengalir sejak masuk ke ruangan pengap itu. Dibentak seperti itu, oleh sosok seperti beliau bikin saraf-saraf kesadaran mereka mengejang. Namun, Mereka bersikukuh mengaku tidak melakukan pencurian. Setengah jam berlalu, interogasi ini berjalan alot. 

Melihat keteguhan remaja tanggung ini, Iptu Widyatmoko yang kini ditemani seorang petugas memisahkan mereka bertiga di ruangan yang berbeda-beda. Zainal remaja cengeng ini digiring ke ruangan sebelah utara dekat mushalla, Syah di ruang dekat jendela, sedang ketua komplotan ini, Hadi di ruangan IPTU Widyatmoko. 

Kantor Kepolisian Sektor itu berbentuk persegi dengan dibagia enam ruangan. Ada ruang utama, tempat ‘tamu’ berkunjung. Lalu gudang di belakang nya, disampingnya mushalla, ruang petugas dua dekat jendela, dan paling depan ruangan Kapolsek.

Tiga kancil ini diinterogasi habis-habisan. Hingga tangis Zain terdengar hingga ke ruangan. Syah menangis sesenggukan mohon ampun. Pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi itu hanya membuat Hadi berkaca-kaca. 

“Jujur saja, kamu santri kan? Santri itu orang-orang agamis yang menjunjung tinggi nilai mulia agama islam. Ayolah jujur, kamu yang maling di toko seberang jembatan itu kan?” Iptu Widiyatmoko menghardik Hadi. 

“Demi Allah pak, tidak. Kami tidak mencuri. Tadi  kami mau ke warnet di samping jembatan, karena kami dengar-dengar informasi, kalau gus kami yang galak itu biasa lewat disitu. Makanya kami lari ke seberang. Terus, kami hanya duduk di toko itu karena kecapaian. Habis itu, kami . . . “ 

“Alasan saja! Tidak usah mengelak! Tadi ada orang yang memergoki kalian lagi mencoba buka pintu itu warung itu pakai ini” sambil mengangkat sebuah obeng di tangan kanannya, Iptu Widyatmoko memotong penjelasan Hadi dengan nada tinggi.

“Itu fitnah paaakk.. kami tidak melakukan itu. Sumpah pak!Hadi membela tanpa berani menatap wajah sosok didepannya. Hadi tak menyangka bahwa mereka akan dituduh sekeji itu. Mereka hanya numpang duduk disitu tiada maksud lain apalagi mencuri. 

“Fitnah apanya? Ini sudah jelas ada buktinya! Masih enggak mengaku kamu?” IPTU Widyatmoko tegas.

Hadi tidak tau harus membela diri menggunakan jurus apa lagi. Saraf-saraf motorik lidahnya mati seketika. Dunia berputar-putar cepat di kepalanya. Bayang-bayang ibunda menangis terbayang didepan matanya. Kecewa teman kamar, santri senior, ustadz kesayanganya, bahkan Kyai Abdul menampar keras di ingatannya. Membayangkan hal menakutkan itu, membuat tanggul air mata Hadi jebol. Dia tak kuasa menahan bulir air mata yang telah jatuh ke pipi pelan.

“Ngapain nangis? Heh? Tidak ada gunanya. Saya tidak akan luluh dengan tangis bohongmu itu. Dengar, teman-temanmu sudah mewek dari tadi. Mengaku saja. Ini tidak akan lama. Paling nanti kalian masuk sel penjara 5-6 tahun. Tapi kalau kalian masih keukeuh, saya pastikan kalian sepuluh tahun membusuk disana! Camkan kata saya!”  kali ini ancaman Iptu semakin menjadi-jadi.

Kesekian kalinya tangis Hadi menjadi-jadi. Pasrah tapi tak rela. Semua pembelaan sia-sia. 

Wajah iptu Widaytmoko senang bukan kepalang. Semakin bertubi-tubi mencecari Hadi dengan berbagai sangkaan. Namun, Hadi hanya diam menunduk. 

“Sekarang! Saya mau tahu, dimana obeng itu kamu simpan sekarang, keluarkan! Cepat!! “Seru Iptu Widyatmoko pada Hadi yang sedang sekarat ucap. 

“Buka bajumu! Buka!” imbuhnya.

Hadi hanya pasrah mengikuti perintah perwira polisi tersebut. Bagai sapi yang dicucuk hidungnya. Hadi mencabut peci hitam kusamnya lalu menaruhnya ke lantai, jaket, kemeja hingga kaos oblongnya dilucuti satu persatu. Hadi melepaskan ikatan perut sarung Wadimornya hingga jatuh ke lantai. Tersisa CD alias celana dalam penutup kemaluannya saja. 

Di ruangan itu Hadi seperti tuyul gede, tanpa busana hanya kain tipis berbentuk segitiga yang menempel di selangkangan. 

Pandangan mata Hadi makin keras berputar, gravitasi bumi sudah mati. Urat-urat nadi berhenti. Degup jantung absen, tak berfungsi. Belaian dingin angin malam kian menusuk tulang belulang melalui pori-pori.

Iptu Widyatmoko mentap dengan sinis, melihat tubuh cungkring nirgizi di depannnya. Bagaikan seekor singa yang siap menerkam daging mangsa di depannya. 

Di ruangan lain jauh lebih miris, Zain sudah pingsan di depan sersan IPTU I Made Wiryawan, sedangkan Syah menangis menjadi-menjadi di hadapan IPTU Eko Atmaja. Kedua perwira tersebut bawahan IPTU Widyatmoko. 

Hadi tak tahu kondisi -tak sempat memikirkan- kedua sahabat senasibnya. 

IPTU Widyatmoko melirik jam tangannya. Di lonceng digital itu, tertulis nol dua tujuh belas menit, artinya ‘wawancara’ mereka bertiga sudah dua jam lebih. Iptu Widyatmoko sudah tidak tertarik mengajukn pertanyaan. Sebelum keluar, beliau memerintahkan Hadi, agar berdiri satu kaki, dengan kaki sebelahnya menekuk ke samping membentuk angka empat. Lalu kedua tangan Hadi memegang telinga sebelahan. Tangan kanan menjewer telinga kiri, dan sebaliknya.

“Tunggu disini, tetap seperti itu sampai saya kembali! Paham? “ beliau menambahkan. 

“Ya Allah, ampunilah dosa hamba. Hamba hanya melakukan ‘dosa’ kecil. Tapi mengapa tebusannya begitu besar? Ini tidak setimpal”. Hadi hanya bergumam dalam hati sambil menuruti perintah orang teratas tadi.

Akhirnya, Iptu Widaytmoko keluar dari ruang “kebesarannya”, menuju ke ruang interogasi yang lain. Lalu beliau menyuruh keluar bawahannya. 

Hadi, Zain dan Syah merasa aliran waktu berjalan lambat. Lama sekali. Neraka. Benar-benar malapetaka menimpa mereka. 

Sayup-sayup terdengar suara Iptu Widyatmoko sedang menelefon seseorang. Lima menit kemudian, Iptu Widyatmoko dan bawahannya masuk kembali ke ‘tempat tugas’ masing-masing. 

Iptu Widyatmoko terkekeh-kekeh, melihat kondisi Hadi yang gemetaran tak berbentuk angka empat lagi. 

“Cukup. Pakai baju-bajumu. Tunggu disini sampai ada saya memerintah kamu keluar! “ Sebuah kalimat yang tak perlu dijelaskan lagi untuk difahami pemuda cerdas seperti Hadi. Nilai akademisnya selalu tiga teratas. 

Dengan sisa kekuatan yang ada. Urat-urat yang lemas, bahkan sudah mulai kram, Hadi paksakan memasangkan kaos, kemeja, jaket dan sarungnya kembali. 

Tak berselang lama, terdengar suara mobil datang berhenti ke depan kantor POLSEK. Suara seseorang yang sudah tidak asing lagi, Hadi dan keduanya dengar sedang mengobrol asyik dengan IPTU Widyatmoko.

Dua puluhan menit sudah, obrolan sudah berhenti. Iptu Widyatmoko memanggil ketiga ‘tahanan’ agar keluar. Hadi, Zain dan Syah tau. Kondisi mereka sekarang bukan tambah menguntungkan, malah sebaliknya. Makin suram. 

Tampak disana Gus Hasyim sedang mengobrol dengan pak I Made asyik sekali. Lalu, gus itu mendatangi mereka bertiga dan meminta izin agar diberikan waktu berbicara pribadi dengan ketiga santrinya itu. Mereka bertiga diajak Gus Hasyim ke depan lorong pintu utama. Tanpa ba bi bu, “buk, buk, bugh!” tertanam pukulan gus .. ke wajah ketiga santrinya itu. 

“Apa yang kalian lakukan? Tidak pernah membanggakan pesantren malah membuat malu pesantren! Kemana pikiran kalian? Ingat orang tua kalian yang berjuang demi kalian! Kalian malah keluyuran tidak jelas! Kalian sudah kena karma dari pesantren! Bikin malu kyai! “ 

Ucapan beliau menambah kecamuk dalam hati tiga begundal itu. Rasa bersalah menyelimuti hati mereka. Pukulan beliau mereka anggap sebagai pukulan kasih sayang. Bukan kebencian.

“Kalian sayang dengan pesantren Al-Mubtadiin kan?” tanya Gus Hasyim mereka jawab dengan anggukan kepala.

“Ya sudah, biar saya yang mencoba melobi Kapolsek. kalian perbanyak berdoa, semoga Allah memudahkan urusan ini. Karena walaupun saya tahu kalian difitnah, dituduh tanpa bukti jelas, melobi kepolisian tak semudah membalik telapak tangan. “ Gus Hasyim Pergi meninggalkan mereka disana bertiga menemui IPTU Widyatmoko, kapolsek Sungai Ambawang.

Selang beberapa menit mengobrol dan saling bersalaman, gus … kembali menemui mereka dan menyuruh mereka keluar masuk ke mobil beliau.

Akhirnya mereka bertiga keluar dari ‘gerbang malapetaka’. Lalu masuk ke mobil setelah Gus Hasyim sudah siap berada di belakang setir. 

Di perjalanan pulang, Gus Hasyim Nyeletuk. “ Kalian tahu? Urusan tadi mudah sekali. Tak kira harus diskusi rumit dengan beliau-beliau. Ah, ternyata jauh panggang dari api. Tinggal ‘salaman’ beres.” Sambil senyum beliau menerangkannya. “Dunia ini dikuasai duit. Dari lahir butuh duit, sekolah TK sampai Kuliah butuh duit. Nikah butuh duit, lahiran bahkan matipun butuh duit. Bapak-bapak kepolisian tadi awalnya tidak mengizinkan saya memulangkan kalian, karena butuh pemeriksaan lanjutan. Setelah saya berjanji akan mentransfer sekian uang, mereka luluh saja. Dalihnya ini bisa dialihkan menjadi tanggung jawab wali alias pihak keluarga ndalem mengingat kalian berstatus santri Al-Mubtadiin yang belum ber-ktp. Mudah sekali manusia ditipu duniawi.” Gus Hasyim menjelaskan sambil menatap ninir faktaparadoks tersebut.

“Tapi ingat nak! Jadikan ini pelajaran terakhir. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Paham?” 

“Enggih, gus.”mereka jawab kompak pelan. 

Mobil itu sudah sampai ke halaman pondok pesantren pukul tiga lebih empat puluh. Syah, Hadi dan Zain keluar setelah pamitan ke gus..  Namun, sebelum kembali ke kamar, Gus Hasyim dawuh “untuk menebus dosa kalian, cukur rambut dan alis kalian, Ziarah ke makam kyai-kyai setiap pagi. Anggap sebagai pelebur kesalahan kalian pada pesantren ini. “ 

Setelah itu, mereka dibawa pengurus ke kantor. Dibotaki rambut kepala dan alis. Lalu, mereka istirahat ke kamar masing-masing. Berita “Santri Masuk Penjara” ini viral di seantero desa Sungai Ambawang dan sekitarnya selama seminggu lebih. 

Memang, Zain dan Syah hanya beberapa kali ikut kelakuan Hadi. Jarang keluar malam. Kalau si Hadi tak perlu ditanyakan lagi, pelanggaran ini sudah setiap malam dilakukan. Setiap malam tanpa libur selama setahun lebih. Hadi tak pernah dicurigai kelakuan ini. Karena Hadi selalu aktif sekolah, ngaji, kegiatan bahkan santri unggulan di kelasnya. Teman-temannya, sudah mencoba melarang Hadi, tetapi dianggap hanya angin lalu. Sekarang? Hukuman sudah tiba. Sepandai-pandai katak melompat pasti akan keseleo juga.

Peringatan dari Allah ini merubah mereka. Seratus delapan puluh derajat tanpa celsius. 

Zain dan Syah sudah tobat dari kelakuan ini. Hadi si Biang Kerok bahkan tidak pernah menyentuh kakinya keluar pesantren kecuali liburan. Terkadang, untuk mengembalikan ke jalan yang benar, butuh cara “khusus” guna mengingatkan di kala metode ‘biasa’ sudah dilaksanakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *