Setiap daerah mestinya punya tradisi yang berbeda-beda dari daerah lainnya, terutama pada bulan Muharram.

Misalnya masyarakat madura, yang  identik dengan kekentalannya dalam keagamaan.

Orang madura mengenal bulan Muharram itu dengan sebutan bulan “jhin peddhis“, karena orang madura pada bulan ini biasanya akan memasak bubur pedas atau tajhin peddhis (bahasa Madura), tajhin peddhis terbuat dari beras dan dicampuri dengan berbagai jenis bahan masakan lainnya seperti kacang, ubi, kacang panjang, kacang ijo dan lain-lain. Untuk itu, bubur dengan berbagai campuran ini desebut dengan bubur campur, katanya ini harus ada 7 campuran.

Bagi masyarakat madura, tajhin atau bubur bukan hanya sekedar makanan biasa, namun merupakan simbol rasa syukur kepada Allah Swt.

Tajhin peddhis bukan hanya simbol ritual agama saja, tapi sebelum itu sejarah sudah mencatat kejadian yang kemudian disebut sebagai asal usul tajhin peddhis ini.

Dikutip dari Fanpage; Gus Dewa Menjawab.

Dalam kitab Bada`Iuzuhur karya Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas al-Hanafy, halaman 64 dan juga tertera dalam Kitab Ianah Tholibin di sebutkan sebagai berikut: 

قال الثعلبي كان استواء السفينة علي جبل الجودي يوم عاشوراء وهو العاشر من المحرم فصامه نوح شكرا لله تعالي وامر من كان معه بالصيام في ذلك اليوم شكرا علي تلك النعمة .

ويروي ان الطيور والوحوش والدواب جميعهم صاموا ذلك اليوم ثم ان نوح اخرج ما بقي معه من الزاد فجمع سبعة اصناف من الحبوب وهي البسلة والعدس والفول والحمص والقمح والشعير والارز فخلط بعضها في بعض وطبخها في ذلك اليوم فصارت الحبوب من ذلك اليوم سنة نوح عليه السلام وهي مستحبة

Artinya; 

Imam Atsa’laby berkata: Perahu Nabi Nuh As mendarat sempurna disebuah gunung bertepatan pada tanggal 10 Muharram/hari Asyuro, maka Nabi Nuh melakukan puasa pada hari itu dan memerintahkan kepada kaumnya yg ikut dalam perahunya untuk melakukan puasa pada hari Asyuro sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt.

Dan diriwayatkan bahwa seluruh binatang dan hewan yg ikut dalam perahu Nabi Nuh AS. juga melaksanakan puasa. Kemudian Nabi Nuh AS. mengeluarkan sisa perbekalan selama terapung dalam kapal, tidak banyak sisa yg didapat kemudian Nabi Nuh AS mengumpulkan sisa biji-bijian itu, ada tujuh macam jenis biji-bijian dan jumlahnya tidak banyak kemudian disatukan dan dijadikan makanan. dan selanjutnya pada tahun-tahun berikutnya Nabi Nuh AS dan kaumnya selalu membuat makanan seperti itu (bubur dalam bahasa kita) pada hari Asyuro/10 Muharram”.

Penulis: Mudassir (Mahasiswa aktif STITAL).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *