Masyarakat Madura termasuk salah satu masyarakat yang sangat melestarikan budaya yang ada, termasuk budaya menguburkan ari-ari (tamoni) dimana, mungkin desa lain atau di suatu kota hal semacam ini sudah sedikit dihilangkan atau bahkan sengaja dilupakan. Jika di suatu kota yang identik kemajuannya, ari-ari (tamoni) sudah tidak dianggap lagi, ibarat sampah yang di buang begitu saja. Karna menurut mereka, ari-ari hanyalah plasenta atau tali pusar yang hanya sebatas organ yang membantu bayi ketika berada di dalam kandungan ibunya. Setelah bayi itu lahir maka fungsi ari-ari yang dibawanya tidak ada lagi, sehingga dibuang bersamaan dengan sampah medis lainnya. Berbeda dengan masyarakat Madura, terlebih di desa Galis yang sangat menghargai ari-ari (tamoni), karna baginya ia adalah teman sekaligus organ yang membantu bayi mulai dari dalam kandungan. Maka dari itu, warga desa Galis sangatlah antusias dalam budaya menguburkan ari-ari tersebut. Di masyarakat Galis sendiri, mereka memiliki berbagai macam cara yang berbeda untuk menguburkan ari-ari (tamoni), ada yang di kubur dan ada juga yang di gantung di pohon asam. Hal semacam ini memiliki makna tersendiri beserta tujuannya yakni;

1.Budaya menguburkan ari-ari (tamoni) bayi perempuan beserta alasannya dan langkah-langkah:

a. Tamoni di cuci dengan bersih

b. Kemudian ditempatkan ke suatu wadah yang terbuat dari tanah dan ditutup agar tidak hancur

c. Lalu diberi bawang putih, ketumbar, garam, cabe dan gula. Mereka memiliki kepercayaan agar putrinya berparas cantik dan manis (sedde manis, dalam bahasa madura)

d. Setelah itu, ditambahkan bulu ayam supaya putrinya kelak semakin tua semakin cantik (wa tuwah ajem, dalam bahasa madura)

e. Dikuburkan depan rumah dengan alasan agar si anak kelak tidak pemalu dan berani dengan mental sekuat baja

f. Sekelilingnya di tanami pohon pandan, mereka percaya bahwa dengan adanya pohon pandan tersebut makhluk halus tidak berani untuk mendekat.

g. Diberi paralon di sebelah pohon pandan yang ditanam, dengan kepercayaan bahwa agar si anak tidak mengalami sesak nafas.

h. Diberikan pagar bambu supaya terjaga dari gangguan hewan yang dapat merusaknya.

i. Langkah terakhir, Tamoni diberi lampu sebagai penerang selama empat puluh hari, hal ini dimaksudkan agar terhindar dari binatang ketika malam hari serta orang madura yakin dengan harapan bahwa si bayi selalu diberi penerangan dalam hidupnya yakni limpahan cahaya dari yang Maha Kuasa.

2. Budaya Menggantungkan ari-ari bagi bayi laki laki beserta alasan menurut kepercayaan orang madura. Adapun langkah-langkahnya yakni;

a. Ari-ari dicuci bersih

b. Tempatkan pada wadah yang terbuat dari tanah agar bertahan lama

c. Diberi bawang putih, ketumbar, garam, cabe dan gula. Mereka memiliki kepercayaan seperti halnya penjelasan sebelumnya.

d. Menambahkan bulu ayam, dengan kepercayaan putranya kelak, semakin tambah usia akan terlihat muda dan tampan.

e. Kemudian sebagai langkah terakhir, wadah tadi ditutup dengan rapat, dan diikatkan dengan tali, lalu di gantungkan ke atas pohon asam. Mereka memiliki kepercayaan agar putranya kelak pandai memanjat pepohonan. Namun, perlu diperhatikan bahwa ari-ari yang di gantung tersebut tidak berlaku selamanya, melainkan hanya 7 bulan, dengan tujuan hanya untuk mengeringkan ari-arinya.

f. Selanjutnya, ari-ari yang sudah kering di kubur beserta wadahnya. Tradisi ini merupakan sebuah bentuk upaya penghormatan terhadap ari-ari seorang bayi yang baru lahir, orang madura beranggapan bahwa ari-ari (tamoni) daripada dibuang, lebih baik diperlakukan dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk penghormatan karena telah menyertai bayi ketika berada dalam kandungan ibunya. Dilihat dari pandangann agama islam, hal tersebut juga dianjurkan untuk menguburkan sesuatu yang dulunya bagian dari yang melekat pada badan kemudian terpisah dari organ manusia yang masih hidup. Dari hal itu, kita ketahui bersama bahwa budaya menguburkan ari-ari yang dilakukan orang madura tidak bertentangan dengan hukum islam yang ada, bahkan hal tersebut sesuai dengan tuntutan ajaran agama islam.

Penulis: Imroatul Azizah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *