Sesuai dengan Era Millenial, sebagai makhluk hidup, kita sudah banyak mengalami perubahan yang amat sangat dinamis, entah itu pertahun, perbulan, perminggu, perhari, perjam atau bahkan perdetik zaman pasti akan berubah.


Ketika sudah bicara tentang perubahan apalagi di Era yang millenial ini, tentunya yang akan kita kupas tuntas itu adalah tentang kecanggihan teknologi, fashion, politik, dan point pentingnya adalah Ahklak. Akan tetapi, yang sangat memprihatinkan perubahannya dalam hal fashion dan akhlak. Dua hal inilah yang jika tidak ditangani dengan baik, akan membentuk peradaban yang cacat akan moral, dan menumpulkan nilai-nilai kereligiusan agama yang dianut.


Siapa sih yang masih pasif dalam hal fashion dan dandan? Anak usia dini saja sudah mahir rasanya dalam mempercantik paras mereka, apalagi dalam hal memerahkan bibirpun tak kalah menariknya ketika melihat para siswa-siswa yang bahkan menancapkan benda kecil hitam perak pada daun telinganya, yah itu anting. Mereka sudah menganggap bahwa penampilan yang mereka aplikasikan adalah penampilan yang tren dan modis, semua ini karna factor dari perkembangan zaman (kemodernisasian), yang sudah melampaui batas norma agama, terlebih lagi dalam agama Islam.


Berbicara perihal zaman, era, dan waktu, memang segalanya tidak akan sama, mengenai zamannya memang tidak ada masalah, namun yang menjadi titik runcingnya adalah orang yang hidup di zaman itu, dan perkembangan pengetahuannya. Dari era dulu yang mulai merangkak, sampai era sekarang yang sudah berlari, manusia perlahan-lahan mulai berlomba untuk menjadi pusat perhatian, entah dari tingkat umur yang termuda sampai pada yang tertua. Sebutlah peralihan dari anak-anak menuju remaja, dan remaja menuju dewasa.


Remaja, adalah “peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa”. Inilah arti dari kata remaja dari wikipedia. Menurut Pieget (dalam Hurlock) mengatakan secara psikologis remaja adalah usia dimana individu berinteraksi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah ikatan orang-orang yang lebih tua, melainkan dalam tingkatan yang sama sekurang-kurangnya dalam masalah hak.


Miris sekali, ketika melihat sebagian gaya penampilan anak SD, SMP sekarang, mereka sudah menyamai gaya penampilan orang dewasa, yang biasanya anak SD masih memakai bedak cusson di era millenial ini mereka sudah memakai skincare dan lain-lain. Sama halnya dengan Siswa SD yang laki-laki, biasanya masih main kelereng sekarang sudah bisa menyatakan rasa suka terhadap lawan jenisnya, sudah banyak bukti bahwa pergaulan anak-anak atau remaja yang tidak semestinya, pada hari ini sangat iantusias, dan ini perlu di antisipasi.


Mulai dari mana antisipasi kita untuk mencegah terjadinya dampak negatifnya? Mulai lah dari Orang Tua dan Lingkungannya. Karena dari beberapa statement yang sudah disebutkan, disini bisa diambil kesimpulan bahwa rentannya masa puber itu tergantung terhadap dimana, dengan apa, dan siapa mereka melakukan interaksi. dan tentunya perlu sebuah arahan yang lebih matang dari pihak orang tua ataupun orang sekitarnya. Memang benar adanya, dalam dunia psikologi saja, sifat atau tingkah laku seseorang yang sesungguhnya adalah sesuatu yang dibentuk oleh lingkungannya, Artinya rentan yang sesungguhnya itu bagaimana dia menanggapi dari fenomena yang terjadi disekitar lingkungannya. Inilah peran Orang tua, dan lingkunganya lah yang akan menjadi antisipasi paling kuat untuk pencegahan.

penulis: Hosniyah (Mahasiswa STITAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *