Pernah, satu kali, tulisan “Amal Masjid” karya mas Lukman Hakim AG di Radar Madura menarik perhatian. Tulisan yang mengungkap fenomena unik muslim Jawa, khususnya muslim di Madura tentang penggalangan dana ‘Amal Jariyah Masjid’ yang dilakukan di (sepanjang) jalan raya.

Alih-alih menggunakan kata ‘fenomena’ bagaimana kalau kita pakai saja kata ‘budaya’, sebab aktivitas ini suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh kita, serta diwariskan dari generasi ke generasi.

Bersedekah adalah ajaran agama yang mulia, tak tanggung-tanggung, balasannya adalah sepuluh kali lipat dari sedekah yang diberikan. Hadits nabi juga al Quran menyebutnya, juga memerintahkannya berkali-kali. Sedekah sebagai bentuk syukur, perantara mudahnya rezeki halal, dijauhkan dengan penyakit, dan sedekah juga melipatgandakan pahala merupakan inti ajaran tentang sedekah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.”

(HR. Muslim, no. 1631).

Termasuk pula aktivitas Penarikan Amal Jariyah Pembangunan Masjid di Madura, adalah salah satu implementasi dari ajaran sedekah tersebut. Sudah tidak perlu jauh-jauh mencari kotak amal di masjid, para dermawan itu hanya perlu melempar uang ‘receh’nya di gayung petugas yang berdiri di tengah jalan, bahkan dilempar saja ke jalan raya saat mereka melintas, biar nanti panitia Amal memungutnya ketika tidak ada kendaraan lewat. Belum lagi bonus ‘didoakan’ keras- keras dan sepanjang-panjangnya, pakai Toa untuk keselamatan dunia akhiratnya, oleh petugas yang lain.

Uang receh, dan kemudahan penyaluran adalah dua faktor yang menurut saya membuat Amal Jariyah Jalan Raya ini menjadi budaya. Budaya Madura tentu saja, bukan budaya islam. Karena budaya (ajaran) islam itu tidak hanya tentang sedekah. Tapi juga ketuhanan, pendidikan, sosial bahkan kesehatan.

Mas Lukman mengungkapkan bahwa, sehari, satu amal masjid bisa mengumpulkan sekitar 3 juta rupiah dari receh (uang kecil) yang dikumpulkan dari para penyumbang. Itu di hari biasa, di bulan baik, ramadhan-idul fitri, atau bulan baik lainnya, bisa sampai 5 juta sehari.

Apakah seluruh dana itu kembali ke panitia untuk pembangunan masjid?

Begini sedikit informasi yang kami dapatkan, petugas Amal Masjid itu mendapat bayaran sebagai tenaga yang menerima uang di jalan raya. Yang bekerja 8-9 jam (sehari)  bayarannya sekitar 75 ribu, yang bekerja 5 jam (setengah hari) mendapat bayaran sekitar 50 ribu rupiah, tergantung pengelolaan panitia. Satu Amal Masjid, punya sekitar 10 petugas (biasanya petugas amal adalah pengangguran atau kerja serabutan), bahkan lebih. Anggap saja pengeluaran untuk petugas 750 ribu, 2 juta untuk masjid, sisanya untuk pengelolaan kegiatan Amal tsb.

Di Bangkalan saja, sepanjang jalur utama Bangkalan-Sumenep (jalur provinsi) ada puluhan kegiatan serupa, belum lagi di jalur kecilnya, tentu tambah banyak sekali, apalagi Madura pada umumnya. Satu masjid, menggelar kegiatan ini tidak satu bulan, bisa 3 tahun bahkan lebih dari 5 tahun. Secara tidak langsung, bisa kita katakan bahwa Masjid telah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

Budaya Amal Jariyah Jalan Raya tidak melulu tentang surga dan kebaikan. Memang benar, puluhan masjid akan terbangun, dan ratusan orang dapat pekerjaan. Tapi bagaimana dengan hak pengguna jalan tentang keamanan, bahkan keamanan petugasnya sendiri. Bagaimana kita mengelola ekonomi ummat yang ternyata luar biasa besar itu, apakah itu tidak menyadarkan pemerintah tentang penyediaan lapangan pekerjaan, kenapa kita hanya gemar membangun, bagaimana dengan proses melestarikan masjidnya, kegiatannya yang relijius, inspiratif, seperti menyediakan perpustakaan buku di masjid, bagaimana program remaja masjidnya, atau justeru akan membangun (mempertahankan) pola pikir kita yang kumuh tentang penerjemahan ajaran agama dari cara-cara yang “maaf” membahayakan.

Jelas, saya tidak mengatakan haram seperti yang pernah difatwakan oleh MUI delapan tahun silam itu. Kami hanya ingin berterima kasih pada mas Lukman Hakim yang telah membuka keran diskusi ini. Karena kami begitu yakin, masyarakat Madura, khususnya pemuda Madura yang benar-benar memperhatikan masa depan bangsanya, tidak akan meninggalkan berita ini tanpa komentar dan perasaan tidak peduli terhadap ‘budaya’ kita sendiri yang masih punya banyak tanda tanya-nya ini.

2 thoughts on “BANGKALAN, MENUJU KOTA AMAL MASJID TERPANJANG DI MADURA”
  1. Bagus, renyah.

    Tambah bagus lagi, kalau penulis mencantumkan namanya. Apalagi dalam tulisan adalah Asumsi atau pendapat perseorangan dengan menggunakan kata “Saya”. Toppp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *